Thursday, July 29, 2010

SISI LAIN SAIL BANDA

MUNGKIN saja para pemikir abad pertengahan keliru menafsir terawangan filosof Yunani Plato tentang sebuah daratan tersembunyi nun jauh dibelahan timur dunia dalam sabdanya “Terra Australian Incognita” yang kemudian diklaim sebagai Australia. Bisa jadi yang dimaksud oleh sang filosof adalah Banda.

Banda mengingatkan kita akan daratan eksotis nan misterius yang menjadi inspirasi para pedagang mediterania dan atlantis nun jauh ratusan bahkan ribuan tahun silam. Dari sinilah diperoleh komoditi unggulan yang bernilai setara emas dan intan berlian yang dibutuhkan para raja dan sultan dari pesisir barat india, jazirah arab dan timur tengah sampai pedalaman china dan eropa.

Mencapai daratan yang berupa gugus-gugus pulau mungil bak deretan bintang kejora ini tak semudah harapan dan impian untuk mendapatkan komoditi yang dicari. Harga dari petualangan berbahaya ini adalah waktu jelajah, resiko tersesat, perompakan, dan bahkan tenggelam oleh amukan badai tanjung harapan dan jebakan perairan dangkal nusantara.

Meskipun demikian adanya, Banda seperti Gadis Perawan nan seksi yang dilengkapi ajimat magnet yang memiliki kuasa gaib menarik mereka datang bertaruh nyawa. Saking penting dan berharganya daratan ini, kerahasiaan akan letak, posisi dan cara menuju kesana seperti menjadi konvensi tersendiri bagi para pedagang arab, india dan china untuk tidak dibocorkan ke pedagang lain, terutama pedagang eropa.

Cadar misteri Banda perlahan mulai terkuak setelah keluar maklumat Isabella-Ferdinand dari Spanyol untuk menemukan Sang Gadis Misterius. Maklumat yang mengantarkan bangsa eropa datang melalui jalan asing samudera dan menancapkan hegemoni kekuasaannya.

Dari sinilah hikayat Sang Gadis mulai ditulis melalui cerita tutur, perjanjian, traktat dan mitos tentang suka-duka, tragedi-elegi, peperangan-perdamaian, perdagangan bebas dan monopoli, demokrasi dan tirani, keadilan dan penindasan, egaliter-primordialisme serta sejuta riwayat lainnya.

Melalui Perjanjian Breda tahun 1667, Inggris menyerahkan Pulau Run sebagai basis terakhir di Banda dengan Pulau New Amsterdam, pulau yang dalam bahasa Indian disebut sebagai Manahatta.

Waktu berlalu, jaman berubah, teknologi berkembang, dan kebutuhan manusia makin kompleks. Wajah sang gadis “Banda” mulai menampakkan guratan sendu, lelah dan terasing, meskipun masih menyimpan sebuah kedalaman misteri.

Dari keterasingan dan kemisteriusan Banda pula yang melahirkan ide tentang sebuah Al-Catraz kolonialis Belanda untuk menjadikan daratan ini sebagai tempat mengasingkan para pembangkang politik yang sering dilabeli sebagai ekstremis, inlander picik bahkan pemberontak.

Maka sejarah kembali ditulis tentang perlawanan atas sebuah mimpi yang hari ini kita sebut Republik Indonesia. Hatta, Sjahrir, dan beberapa tokoh perlawanan menjadikan daratan misterius ini sebagai tempat melakukan konsolidasi.

Dan kini, mimpi itu menjadi petaka bagi sang daratan yang makin membuat ia dilupakan oleh pusaran jaman dan gempita pembangunan yang sentralistik.

Kini datang kembali sang Dewi Fortuna berjubah festival “Sail Banda” ingin menulis sebuah hikayat baru menghapus galau rindu sang gadis yang dulu dipuja-puja. Aduhai, mampukah menghapus derita berkepanjangan akibat penipuan dan penindasan?

Banda, sang daratan misterius masih menyimpan segudang harta terpendam yang mampu mengantar para pendatang untuk meraih kejayaan abad pertengahan dengan seribu komoditi lainnya.

Namun, jika kau Sang Dewi Fortuna hanya sekedar datang untuk menjamu sang gadis dengan anggur merah dan alunan musik serta pesta dansa. Kau tidak lebih seperti para penjelajah sebelumnya hanya untuk sekedar mampir menipu dan menguras harta berharga yang tersisa dari sang gadis.

Masih adakah wajah humanis dalam bahasa ketulusan, kejujuran dan persamaan. Jika tidak, enyahlah kau sang penipu, pergilah kau sang kapitalis. Kau sesungguhnya Penjajah berjubah Investor. (SY)

Sumber: My Facebook

0 comments:

Post a Comment